Tidak ada gading yang tak retak, setiap manusia tentunya memiliki
kelemahan atau pernah melakukan kesalahan. Hidup memang tidak lepas dari
kesalahan, entah itu dalam lingkungan keluarga, di kantor atau mungkin dalam
pergaulan sehari-sehari, kita tentunya pernah melakukan kesalahan. Hanya saja
tidak semua orang dapat mengakui kesalahan yang diperbuatnya, ada yang berusaha
menyangkal atau menutupi kesalahan dengan cara melemparkan kesalahan kepada
orang lain. Sedikit orang yang mau mengakui kesalahannya dengan lapang dada dan
bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya.
Kej. 3: 12-13
12 : Manusia itu menjawab: "Perempuan
yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku,
maka kumakan."
13 : Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada
perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan
itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."
Sepertinya memang sudah sejak
awal kehidupan, manusia menyalahkan orang lain; Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan
ular, bahkan sampai saat inipun orang masih suka melemparkan kesalahan.
‘Kebiasaan’ melemparkan kesalahan
tanpa disadari sudah begitu mendominasi
pola hidup kita saat ini, adalah hal yang sering kita dengar perkataan seperti
: “maaf ya telat, tadi jalanannya macet sekali” atau, “maaf ya telat, lama nunggu grabcarnya” atau
“nak … kalau ada yang nyariin ibu/ayah bilang sedang tidur” atau “diam ya nak,
jangan nangis … biar batunya yang nakal ayah/ibu pukul” dan kebiasaan ini tanpa
kita sadari menjadi ‘pembelajaran negatif’ bagi orang disekitar kita terlebih
bagi anak-anak. Sehingga ketika membuat
kesalahan, anak-anak akan berusaha menghindar atau mencari alasan atau mungkin
menangis agar dikasihani, bahkan bukan sesuatu yang mengejutkan ketika seorang
anak, ditanya orang tuanya mengapa nilai sekolahnya buruk, dengan entengnya
menjawab “guru yang mengajar ga enak”.
Melemparkan kesalahan pada
awalnya mungkin melegakan, cara pintas agar tidak disalahkan dan lepas dari
tanggung jawab, namun bila hal ini menjadi suatu kebiasaan tentunya akan
berdampak buruk bagi orang sekitar kita terlebih bagi diri sendiri. Kita tidak
pernah belajar dari kesalahan dan akan menghambat proses pendewasaan sehingga kualitas
kehidupan kita tidak ada peningkatan.
Matius 12 : 37 “Karena
menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan
dihukum”.
Bersedia mengakui kesalahan dapat
dilakukan baik melalui doa kepada Allah dan ataupun kepada orang yang
dirugikan. Tidak ada gading yang tak retak,
semua orang pernah membuat kesalahan dalam hidupnya. Kesalahan dapat
mendewasakan dan membantu kita berkembang menjadi pribadi yang tangguh.
0 komentar
Posting Komentar
terima-kasih sudah berkunjung