Rabu, 02 Januari 2019

Melemparkan Kesalahan

melemparkan kesalahan, kesalahan, sisilia, st. sisiliaTidak ada gading yang tak retak, setiap manusia tentunya memiliki kelemahan atau pernah melakukan kesalahan. Hidup memang tidak lepas dari kesalahan, entah itu dalam lingkungan keluarga, di kantor atau mungkin dalam pergaulan sehari-sehari, kita tentunya pernah melakukan kesalahan. Hanya saja tidak semua orang dapat mengakui kesalahan yang diperbuatnya, ada yang berusaha menyangkal atau menutupi kesalahan dengan cara melemparkan kesalahan kepada orang lain. Sedikit orang yang mau mengakui kesalahannya dengan lapang dada dan bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya.
Kej. 3: 12-13
12 : Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
13 : Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan."

Sepertinya memang sudah sejak awal kehidupan, manusia menyalahkan orang lain;  Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan ular, bahkan sampai saat inipun orang masih suka melemparkan kesalahan.
‘Kebiasaan’ melemparkan kesalahan tanpa disadari  sudah begitu mendominasi pola hidup kita saat ini, adalah hal yang sering kita dengar perkataan seperti : “maaf ya telat, tadi jalanannya macet sekali” atau,  “maaf ya telat, lama nunggu grabcarnya” atau “nak … kalau ada yang nyariin ibu/ayah bilang sedang tidur” atau “diam ya nak, jangan nangis … biar batunya yang nakal ayah/ibu pukul” dan kebiasaan ini tanpa kita sadari menjadi ‘pembelajaran negatif’ bagi orang disekitar kita terlebih bagi anak-anak.  Sehingga ketika membuat kesalahan, anak-anak akan berusaha menghindar atau mencari alasan atau mungkin menangis agar dikasihani, bahkan bukan sesuatu yang mengejutkan ketika seorang anak, ditanya orang tuanya mengapa nilai sekolahnya buruk, dengan entengnya menjawab “guru yang mengajar ga enak”.
Melemparkan kesalahan pada awalnya mungkin melegakan, cara pintas agar tidak disalahkan dan lepas dari tanggung jawab, namun bila hal ini menjadi suatu kebiasaan tentunya akan berdampak buruk bagi orang sekitar kita terlebih bagi diri sendiri. Kita tidak pernah belajar dari kesalahan dan akan menghambat proses pendewasaan sehingga kualitas kehidupan kita tidak ada peningkatan.

Matius 12 : 37 “Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum”.

Bersedia mengakui kesalahan dapat dilakukan baik melalui doa kepada Allah dan ataupun kepada orang yang dirugikan. Tidak ada gading yang tak retak, semua orang pernah membuat kesalahan dalam hidupnya. Kesalahan dapat mendewasakan dan membantu kita berkembang menjadi pribadi yang tangguh.

0 komentar

Posting Komentar

terima-kasih sudah berkunjung